Langsung ke konten utama

ADAB-ADAB SEORANG PENUNTUT ILMU TERHADAP DIRINYA

  1. Membersihkan hati dari kedengkian, dendam dan hasad  serta jeleknya keyakinan atau akhlak agar dengan itu dapat menerima ilmu dan menghafalnya dengan baik.
  2. Memiliki niat  yang baik dalam  tholabul  ilmi dengan bertujuan meraih  keridhoan  Alloh  Ta'ala  dan  mengamalkanya  serta menghidupkan  sunnah,  menerangi  hatinya  dan  mengisi batinnya.
  3. Bersegera  untuk  mencapai  ilmu  di  waktu  muda,  jangan terpengaruh  dengan  tipuan  orang-orang  yang mengulur-ngulur (waktunya)  karena  setiap  waktu  yang  telah  lewat  dari  umur tidak ada penggantinya.
  4. Merasa cukup dengan makanan yang didapat dan pakaian yang dimiliki meski telah usang. Kesabaran atas kesulitan hidup akan meraih keluasaan ilmu.
  5. Membagi waktu malamnya dan  siangnya,  serta memanfaatkan sisa umurnya, sebab umur yang tersisa itu tiada taranya.  Waktu  yang  paling  baik  untuk menghafal  adalah waktu  sahur  (menjelang subuh), dan untuk mempelajari sesuatu adalah pagi- pagi,  adapun  untuk menulis  adalah  pertengahan  siang  sedang  untuk menela'ah dan mengulang pelajaraan adalah malam hari.
  6. Mengurangi  waktu  tidur  selama  tidak  membahayakan  badan  dan  pikirannya,  (hendaknya)  waktu  tidur  tidak  lebih  dari delapan jam sehari dan semalam. 
  7. Diantara  sebab  terbesar  yang  dapat  membantu  agar  (selalu) sibuk dengan  ilmu dan  tidak bosan  ialah makan dengan kadar yang  ringan  dari  yang  halal,  karena  banyak  makan  dapat mendorong  untuk  banyak  minum  kemudian  menyebabkan banyak tidur dan kebodohan. 
  8. Menumbuhkan  sikap  waro'  dalam  segenap  urusannya  dan berusaha  agar  makanannya,  minumannya,  pakaiannya  dan tempatnya (senantiasa) halal. 
  9. Seorang  tholabul  ilmi sepatutnya  tidak bergaul kecuali dengan orang yang  dapat  memberinya  faedah  atau  dapat  mengambil faedah darinya.
  10. Menjauhi  perkara  yang  sia-sia  dan  main-main  serta  majlis-majlis  yang dipenuhi dengan  tertawa dan hal  yang  tiada  guna. Tidak mengapa untuk menghibur  jiwa, hati dan pandangannya dengan  bertamasya  ke  suatu  tempat,  tidak  mengapa  pula menyegarkan kaki dan berolah raga badan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PERKEMBANGAN FISIK MASA DEWASA MADYA

Rentang usia dewasa madya atau yang disebut juga usia setengah baya pada umumnya berkisar antara usia 40 - 60 tahun, dimana pada usia ini ditandai dengan berbagai perubahan fisik maupun mental (Hurlock, 1980:320). Masa usia dewasa madya diartikan sebagai suatu masa menurunnya keterampilan fisik dan semakin besarnya tanggung jawab, suatu periode dimana orang menjadi sadar akan polaritas muda-tua dan semakin berkuranggya jumlah waktu yang tersisa dalam kehidupan, suatu masa ketika orang mencapai dan mempertahankan kepuasan dalam karier, dan suatu titik ketika individu berusaha meneruskan suatu yang berarti pada generasi berikutnya.

GANGGUAN TIC

A.Pengertian
Tic adalah suatu gerakan motorik (yang lazimnya mencakup suatu kelompok otot khas tertentu) yang tidak di bawah pengendalian, berlangsung cepat, dan berulang-ulang, tidak berirama, ataupun suatu hasil vocal yang timbul mendadakdan tidak memiliki tujuan yang nyata. Tic terbagi menjadi tic motorik dan tic vocal. Tic jenis motorik dan jenis vocal mungkin dapat dibagi dalam golongan yang sederhana dan yang kompleks, sekalipun penggarisan batasannya kurang jelas. Tic seringkali terjadi sebagai fenomena tunggal namun tidak jarang disertai variasi gangguan emosional yang luas, khususnya, fenmena obsesi dan hipokondrik. Namun ada pula beberapa hambatan perkembangan khas disertai “tic”. Tiidak terdapat garis pemisahyang jellas antara gangguan “Tic” dengan berbagai gangguan emosional dan gangguan emosional disertai “tic”. Diagnosisnya mencerminkan gangguan utamanya.
B.Kriteria menurut DSM IV TR ·Baik beberapa motor dan satu atau lebih vokal tics telah hadir di beberapa waktu selama sak…

FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB KECEMASAN

Sumber kecemasan yang bersifat internal berasal dari dalam diri individu, tidak memiliki keyakinan akan kemampuan diri dapat menimbulkan kecemasan. Sedangkan sumber kecemasan yang bersifat eksternal berasal dari lingkungan. Perubahan yang terjadi pada lingkungan terjadi secara cepat dapat menimbulkan rasa ketidaknyamanan dalam diri individu, hal inilah yang dapat memicu timbulnya kecemasan.