Langsung ke konten utama

EMPAT GOLONGAN MANUSIA

Menurut penjelasan Imam Al-Ghazali, manusia terbagi menjadi 4 golongan.
    1.       Rojulun Yadri wa Yadri Annahu Yadri (Seseorang yang Tahu dan dia Tahu kalau dirinya Tahu)
Orang ini bisa disebut 'Alim = Mengetahui. Terhadap orang ini, yang harus kita lakukan adalah Mengikutinya. Apalagi kalau kita masih termasuk dalam golongan orang yang awam yang masih butuh banyak diajari maka sudah seharusnya kita mencari orang yang seperti ini, duduk bersama dengannya akan menjadi pengobat hati.
Ini adalah jenis manusia yang paling baik. Jenis manusia yang memiliki kemapanan ilmu, dan dia tahu kalau dirinya itu berilmu, maka ia menggunakan ilmunya. Ia berusaha semaksimal mungkin agar ilmunya benar-benar bermanfaat bagi dirinya, orang sekitarnya, dan bahkan bagi seluruh umat manusia. Dalam bahasa pakar manajemen global, manusia jenis ini adalah manusia yang kreatif, selalu belajar, dan tidak berhenti berinovasi.
Manusia jenis ini adalah manusia unggul. Dalam bahasa Syaikh Muhammad Ahmad Al Rasyid, manusia jenis inilah yang yang mampu merubah dunia kearah yang lebih baik, mereka layak menjadi pelopor “shina’atul hayah” atau “lifemaking”. Jumlah manusia jenis ini tidak banyak, tapi keberadaan mereka menjadi nyawa bagi kehidupan umat manusia. SubhaanAllah .. Dimanakah mereka?  
2.     Rojulun Yadri wa Laa Yadri Annahu Yadri (Seseorang yang Tahu tapi dia Tidak Tahu kalau dirinya Tahu)
Untuk type ini, bolehlah kita sebut dia seumpama orang yang tengah Tertidur. Bagaimana sikap kita kepadanya? Qimhu! Bangunkan dia.
Manusia yang memiliki ilmu dan kecakapan, tapi dia tidak pernah menyadari kalau dirinya memiliki ilmu dan kecakapan. Manusia jenis ini sering kita jumpai di sekeliling kita. Terkadang kita menemukan orang yang sebenarnya memiliki potensi yang luar biasa, tapi ia tidak tahu kalau memiliki potensi. Karena keberadaan dia seakan gak berguna, selama dia belum bangun. Al 'Ilmu Bilaa 'Amalin Kasysyajari bilaa Tsamarin = Ilmu tanpa pengamalan, bagaikan pohon yang tidak berbuah.  Percuma kan?
Adanya dia seperti tidak ada, tidak membawa manfaat meski dia tahu banyak. Maka untuk yang merasa sebagai teman baginya, bangunkan dia, ingatkan dan yakinkan bahwa dia memiliki potensi untuk Bisa. Seorang teman sejati akan yang selalu bisa memberitahu aib kita, ketika seluruh dunia memuja kita, bukan yang mengelu-elukan penderitaan kita.
3.       Rojulun Laa Yadri wa Yadri Annahu Laa Yadri (Seseorang yang Tidak tahu tapi dia Tahu alias sadar diri kalau dia Tidak Tahu)
Orang ini masuk kategori orang-orang yang awam yang masih lemah keilmuannya, masih bodoh pemahamannya. Kepada orang ini, maka sikap yang harus diupayakan dari orang-orang berilmu didekatnya adalah merangkulnya, mengajarinya.
Menurut Imam Ghazali, jenis manusia ini masih tergolong baik. Sebab, ini jenis manusia yang bisa menyadari kekurangannnya. Ia bisa mengintropeksi dirinya dan bisa menempatkan dirinya di tempat yang sepantasnya. Karena dia tahu dirinya tidak berilmu, maka dia belajar. Dengan belajar itu, sangat diharapkan suatu saat dia bisa berilmu dan tahu kalau dirinya berilmu.
Meskipun tergolong baik, tapi ini bukan tipe manusia yang bisa membuat perubahan bagi lingkungannya. Sebab, tanpa ilmu pengetahuan yang cukup, maka manusia tidak bisa berinovasi.  Baiknya, tipe manusia ini dengan kesadaran dan akal sehatnya tidak akan menghalangi sebuah proses perubahan kearah yang lebih baik. Dan manusia jenis ketiga ini, dia tidak akan berani nekat memegang amanah yang ia rasa tidak memiliki kapasitas untuk memegangnya. Sebab ia tahu siapa dirinya.
4.       Rojulun Laa Yadri wa Laa Yadri Annahu Laa Yadri (Seseorang yang Tidak Tahu dan dia Tidak Tahu kalau dirinya Tidak Tahu)
Dan menurut Imam Ghazali, inilah adalah jenis manusia yang paling buruk. Ini jenis manusia yang selalu merasa mengerti, selalu merasa tahu, selalu merasa memiliki ilmu, padahal ia tidak tahu apa-apa. Repotnya manusia jenis seperti ini susah disadarkan, kalau diingatkan ia akan membantah sebaba ia merasa tahu atau merasa lebih tahu. Jenis manusia seperti ini, paling susah dicari kebaikannya. Sikap kita pada orang ini? Fatrukhu! Tinggalkan dia!
Sayangnya, jenis manusia seperti ini sangat banyak dan bisa dijumpai dimana-mana .. orang-orang yang merasa tahu, sok tahu pemahaman baru sejengkal bicaranya sudah sehasta. Membawa-bawa nama agama, berpakaian agamis, dan berbahasa agamis tapi sebenarnya perilakunya jauh dari Islam. Na’udzubillah…
Biasanya orang-orang seperti inilah, yang gampang terbawa pada aliran sesat, berwajah kusam karena malamnya terlalu letih dengan ibadah, berbaju lusuh karena anggapannya bahwa dunia ini hanyalah bangkai, dan yang mengejarnya bagaikan anjing yang kelaparan, menjauhi dunia, tapi tanpa sadar menelantarkan begitu banyak kewajiban yang semestinya dia dahulukan.
Maka jika bertemu dengan orang seperti ini, Tinggalkan dia, itu lebih baik bagimu daripada berbanyak debat hanya akan menimbulkan pertikaian, debat yang tak akan pernah ada habisnya .. karena jalur pemikirannya sudah beda, dia ke Timur, yang lain ke Barat. Dia katakan Matahari cuma ada di Timur, dari terbit hingga tenggelamnya, ya karena dia cuma menghadapkan wajahnya ke Timur saja, fanatik dan tidak mau sekalipun menoleh kearah lain
“Hadapkanlah wajahmu kepada agama yang lurus (Islam) sebelum datang dari Allah suatu hari yang tidak dapat ditolak (kedatangannya)”
Wallohu A'lam Bishshowaab ...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PERKEMBANGAN FISIK MASA DEWASA MADYA

Rentang usia dewasa madya atau yang disebut juga usia setengah baya pada umumnya berkisar antara usia 40 - 60 tahun, dimana pada usia ini ditandai dengan berbagai perubahan fisik maupun mental (Hurlock, 1980:320). Masa usia dewasa madya diartikan sebagai suatu masa menurunnya keterampilan fisik dan semakin besarnya tanggung jawab, suatu periode dimana orang menjadi sadar akan polaritas muda-tua dan semakin berkuranggya jumlah waktu yang tersisa dalam kehidupan, suatu masa ketika orang mencapai dan mempertahankan kepuasan dalam karier, dan suatu titik ketika individu berusaha meneruskan suatu yang berarti pada generasi berikutnya.

GANGGUAN TIC

A.Pengertian
Tic adalah suatu gerakan motorik (yang lazimnya mencakup suatu kelompok otot khas tertentu) yang tidak di bawah pengendalian, berlangsung cepat, dan berulang-ulang, tidak berirama, ataupun suatu hasil vocal yang timbul mendadakdan tidak memiliki tujuan yang nyata. Tic terbagi menjadi tic motorik dan tic vocal. Tic jenis motorik dan jenis vocal mungkin dapat dibagi dalam golongan yang sederhana dan yang kompleks, sekalipun penggarisan batasannya kurang jelas. Tic seringkali terjadi sebagai fenomena tunggal namun tidak jarang disertai variasi gangguan emosional yang luas, khususnya, fenmena obsesi dan hipokondrik. Namun ada pula beberapa hambatan perkembangan khas disertai “tic”. Tiidak terdapat garis pemisahyang jellas antara gangguan “Tic” dengan berbagai gangguan emosional dan gangguan emosional disertai “tic”. Diagnosisnya mencerminkan gangguan utamanya.
B.Kriteria menurut DSM IV TR ·Baik beberapa motor dan satu atau lebih vokal tics telah hadir di beberapa waktu selama sak…

FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB KECEMASAN

Sumber kecemasan yang bersifat internal berasal dari dalam diri individu, tidak memiliki keyakinan akan kemampuan diri dapat menimbulkan kecemasan. Sedangkan sumber kecemasan yang bersifat eksternal berasal dari lingkungan. Perubahan yang terjadi pada lingkungan terjadi secara cepat dapat menimbulkan rasa ketidaknyamanan dalam diri individu, hal inilah yang dapat memicu timbulnya kecemasan.