Langsung ke konten utama

Esensi Manusia Dalam Aliran Filsafat



Manusia mempunyai pengetahuan, binatang mempunyai pengetahuan, malaikat juga mempunyai pengetahuan. Lalu, apa yang membedakan manusia, dengan yang lainnya? Yaitu kalau pengetahuan selain manusia bersifat ‘statis’, sedangkan manusia bersifat ‘dinamis’, terus berkembnag dari zaman ke zaman, karena manusia mempunyai kemampuan mencerna pengalaman, memecahkan masalah yang klompleks. Kemampuan-kemampuan tersebut ada krena manusia dibekali oleh Tuhan akal atau rasio untuk berfikir, sedangkan makhluk lainnya tidak.
Berpikir adalah ciri khas manusia. Sedangkan makhluk lainnya tidak. Kemampuan inilah yang membedakannya dengan makhluk lain. Selain ciri utama sebagai makhluk berfikir, (kognisi), manusia juga masih mempunyai potensi lain, yaitu perasaan (afeksi), kehendak (konasi), dan tindakan (aksi); atau sering disebut dengan daya cipta, rasa, karsa, dan karya.
Ada beberapa aliran dalam filsafat manusia,. Masing-masing aliran memiliki pandangan atau hakikat atau esensi manusia Dari sekian banyak aliran, terdapat dua aliran tertua dan terbesar, yaitu Materialisme dan Idealisme. Aliran-aliran selain itu pada prinsipnya merupakan reaksi yang berkembang kemudian terhadap kedua aliran tersebut.

  1. Materialism
Materialisme merupakan faham atau aliran yang menganggap bahwa dunia ini tidak ada selain materi atau nature (alam) dan dunia fisik adalah satu. Faham materialisme ini praktis, tidak memerlukan dalil-dalil yang muluk-muluk  dan abstrak, juga teorinya jelas berpegang pada kenyataan-kenyataan yang jelas dan mudah dimengerti. Kemajuan aliran ini memdapatkan tantangan yang keras dan hebat dari kaum agama di mana-mana. Hal ini disebabkan bahwa faham ini pada abad ke-19 tidak mengakui adanya tuhan (ateis) yang sudah diakui mengatur budi masyarakat. Pada masa ini, kritik pun muncul di kalangan ulama-ulama barat yang menentang materialisme.
Dan pada esensi manusia, materialisme adalah faham yang meyakini bahwa esensi kenyataan, termasuk esensi manusia bersifat material atau fisik. Ciri utamanya adalah bahwa ia menempati ruang dan waktu, memiliki keluasan (ras extensa)  dan bersifat objektif karena itu, maka bisa diukur dikuantifikasi dan diobservasi.alam spiritual atau alam jiwa, yang tidak menempati ruang, tidak bisa disebut esensi kenyataan, dan karen itu ditolak keberadanya.
Para materialis percaya bahwa tidak ada kekuatan apapun yang bersifat spiritual dibalik gejala atau yang bersifat material itu. Kalau ada peristiwa yang belum diketahui, atau belum bisa dipecahkan oleh manusia, maka hal itu bukan berarti ada kekuatan yang bersifat spiritual dibalik peristiwa tersebut, melainkan karena kekuatan dan akal kita saja yang belum dapat mamahaminya. Penjelasan tentang gejala tersebut tidak perlu dicari di dalam dunia spiritual, karena tidak ada yang namanya dunia spiritual. Pernyataan tersebut harus berdasarkan pada data-data yang bersifat indrawi.
Materialisme dan naturalisme percaya bahwa setiap gejala, gerak, bisa dijelaskan dalam hukum kausalitas hukum sebab akibat, atau hukum stimulus respons. Gejala yang kita amati tidak bergerak sendiri, melainkan ada yang mandahului atau yang menggerakkannya. Karena sangat percaya dengan hukum kausalitas, maka kaum materialisme pada umumnya sangat deterministik. Mereka tidak mengakui adanya kebebasan atau independensi manusia. Gerak selalu bersifat mekanis, digerakan oleh kekuatan-kekuatan di luar dirinya.
Ilmu-ilmu alam sepertifisika, biologi, kimia, kedokteran,  adalah suatu bentuk dari materialisme atau naturalisme, jika beresensi alam semesta (termasuk manusia) dan objek-objek kajian ilmu-ilmu alam sepenuhnya bersifat material, sehingga bisa dijelaskan secara kausal dan mekanis. Akan tetapi, ilmu-ilmu tentang manusia seperti psikologi dan sosiologi pun adalah materialisme, jika memiliki asumsi bahwa objek kajiannya  (yakni perilaku manusia) adalah materi yang menempati ruang dan waktu, bisa diukur dan dikuantifikasi dan bergerak (berperilaku) secara kausal.

  1. Idealisme
Idealisme adalah suatu aliran yang mengajarkan  bahwa hakikat dunia fisik hanya dapat dipahami kaitannya dengan jiwa dan ruh. Istilah idealisme diambil dari kata idea, yakni sesuatu yang hadir dalam jiwa. Idealisme mempunyai argumen epistimologi tersendiri. Oleh karena itu, tokoh-tokoh teisme yang mengajarkan bahwa materi bergantung pada spirit tidak disebut idealis  karena mereka  tidak menggunakan argumen epistimologi yang digunakan oleh idealisme.
Idealisme juga didefinisikan sebagai suatu ajaran , faham atau aliran yang menganggap bahwa realitas ini  terdiri atas ruh-ruh (sukma) atau jiwa, ide-ide atau pikiran atau yang sejenis dengan itu. Aliran ini merupakan aliran yang sangat penting dalam perkembangan sejarah pemikiran manusia.
Menurut aliran ini, kenyataan sejati adalah bersifat spiritual (oleh sebab itu aliran ini sering disebut juga dengan spiritualisme). Esensi dari kenyataan spiritual ini adalah berfikir (res cogitans). Karena kekuatan atau kenyataan spiritual tidak bisa diukur atau dijelaskan berdasarkan pada pengamatan empiris, maka kita hanya bisa menggunakan metafor-metafor kesadaran manusia. Misalnya kekuatan spiritual dianggap bersifat rasional, berkehendak, berperasaan, kreatif dan lain-lain. Fungsinya untuk menjelaskan kenyataan sejati oleh para idealis.
Dengan demikian kenyataan sejati sebagai bersifat spiritual, tidak berarti bahwa para idealis menolak kekuatan-kekuatan yang bersifat fisik (material) dan menolak adanya hukum alam. Para idealis percaya adanya gerak pada setiap planet dan adanya hukum alam, tetapi baik gerak planet-planet maupun  hukum alam, sudah didesain terlebih dahulu oleh kekuatan spiritual.
Seperti hanlya tindakan manusia yang mempunyai tujuan, setiap gerak atau peristiwa alam pun adalah bertujuan. Setiap kejadian tidak terjadi begitu saja, melainkan sudah diatur dan direncanakan oleh kekuatan spiritual. Segala kejadian di bumi dan kehidupan tentunya mempunyai tujuan tertentu (teleologis).
Kebudayaan manusia merupakan cara jiwa manusia mengekspresikan dirinya, mengeksternalisasikan nilai-nilai yang terdapat dalam jiwanya. Demikian juga karya-karya kesenian, yang merupakan produk dari kreativitas estetis atau pemberontakan dan kegelisahan jiwa manusia yang artistik. Karya-karya tersebut harus dilihat sebagai simbol dari daya-daya jiwa yang rasional dan sekaligus artistik.
Sejumlah besar penganut faham idealisme mempunyai pandangan deterministik mengenai manusia.mereka menyatakan bahwa roh absolut (Tuhan) adalah bebas dan tidak berhingga. Tetapi manusia sebagai bagian atau perwujudan dari roh absolut. Tidak ada kebebasan manusia, baik secara individual maupun secara korelatif. Perkembangan manusia pada dasarnya adalah perkembangan roh absolut.
Akan tetapi tidak semua idealis mempunyai pandangan deterministik seperti itu.di antara mereka juga banyak yang menekankan kebebasan manusia.

Aliran-aliran lain
Disamping kedua aliran-aliran tersebut, terdapat beberapa aliran seperti :

  1. Dualisme
Dulisme adalah ajaran atau faham yang memandang alam ini  terdiri atas dua macam hakikat, yaitu hakikat materi dan hakikat ruhani. Kedua macam hakikat itu masing-masing bebas berdiri sendiri, sama asasi dan abadi. Perhubungan antara keduanya itu menciptakan kehidupan dalam alam. Contoh yang paling jelas tentang adanya kerja sama kedua hakikat ini adalah terdapat dalam diri manusia.
Menurut aliran dualisme, kenyataan sejati pada dasarnya adalah baik bersifat fisik maupun spiritual. Semua hal dan kejadian di alam semesta ini, apakah itu pergerakan bintang-gemintang di angkasa raya maupun perilaku dan berbagai kejadian dalam sejarah umat manusia pada dasarnya tidak bisa diasalkan hanya pada satu substansi atau esensi saja. Tidak betul kalau dikatakan bahwa Esensi kenyataan adalah suatu yang bersifat fisik material, karena banyak kejadian di dunia ini yang tidak bisa dijelaskan berdasarkan pada gejala-gejala yang bisa diukur oleh ilmu-ilmu alam atau diamati oleh pancaindra. Tidak betul juga jika dikatakan bahwa esensi kenyataan adalah roh atau jiwa, karena siapaun tidak bisa menyangkal keberadaan dan kekuatan yang nyata dari materi. Yang benar adalah bahwa kenyataan sejati merupakan perpaduan antara materi dan roh.
Apa yang merupakan esensi dari kenyataan adalah juga merupakan esensi dari manusia. Manusia adalah makhluk yang terdiri dari dua substansi, yakni Materi dan Roh, atau tubuh dan jiwa. Sebagaimana dikemukakan oleh Descartes (1596-1650) tubuh adalah substansi yang ciri atau karakteristiknya adalah berkeluasan (res extensa), menempati ruang dan waktu. Karena karakteristik dari tubuh adalah res extensa, makan, siapapun bisa mengamati, manyentuh, mengukur, dan mengkuantifikasikannya. Akal sehat dan ilmu-ilmu tentang organisme (tubuh), apakah itu biologi, fisiologi, atau ilmu kedokteran mampu menjelaskan bahwa sebagian dari perilaku hewan dan manusia pada dasarnya merupakan fungsi dari tubuh (terutama sistem syaraf pusat). Ini berarti bahwa materi atau tubuh itu ada dan keberadaanya bersifat niscaya dan tidak bisa ditolak.
Akan tetapi, dengan diakuinya keberadaan tubuh, tidak berarti harus menolak keberadaan jiwa. Meski tidak bisa diamati secara indrawi, tetapi bisa dibuktikan melalui rasio (pikiran). Menurut Descartes, keberadaan jiwa yang karakteristiknya adalah res cogitans (berfikir) justru lebih jelas dan tegas dibandingkan dengan keberadaan tubuh.

  1. Vitalisme
Vitalisme adalah faham di dalam filsafat yang beranggapan bahwa kenyataan sejati pada dasarnya adalah energi, daya, kekuatan atau nafsu yang bersifat irrasional atau sebaliknya. Dengan memberi tekanan pada kenyataan yang tidak rasional, maka vitalisme berbeda dari idealisme dan sekaligus juga dari materialisme. Idealisme memandang kenyataan bersifat spiritual dan irrasional, dan materialisme memandang kenyataan bersifat fisik (material). Vitalisme percaya bahwa kenyataan sejati pada dasarnya adalah berupa energi-energi, daya-daya, atau kekuatan nonfisik yang tidak rasional dan instingtif (liar).
Vitalisme percaya bahwa seluruh aktvitas atau perilaku manusia pada dasarnya merupakan perwujudan dari energi-energi atau kekuatan-kekuatan yang tidak rasional dan instingtif (liar). Setiap keputusan atau perilaku manusia yang dianggap “rasional” pada dasarnya adalah rasionalisasi saja dari keputusan-keputusan yang tidak rasional tersebut. Manusia merasa bahwa perilakunya seolah-olah dilandasi oleh keputusan-keputusan yang rasional, tetapi sesungguhnya didasari oleh energi, naluri, atau nafsu yang tidak rasional. Rasio hanyalah alat yang berfungsi untuk merasionalisasikan hal-hal atau keputusan-keputusan yang sebetulnya tidak rasional.

  1. Eksistensialisme
Eksistensialisme berbeda dari aliran-aliran filsafat sebagaimana yang  telah disebutkan di atas, Eksistensialisme tidak akan membahas esensi manusia secara abstrak, melainkan secara spesifik meneliti kenyataan kongkrit manusia sebagaimana manusia itu sendiri berada dalam dunianya.
Istilah eksistensi berasal dari existere (eks = keluar, sistere = ada atau berada). Dengan demikian eksistensi memiliki arti sebagai ”sesuatu yang sanggup keluar dari keberadaannya” atau “sesuatu yang mampu melampaui dirinya sendiri”.
Ada beberapa tema kehidupan yang coba diungkap oleh para eksistensial, menurut mareka tema tersebut selalu dialami oleh manusia dan mendasari perilaku manusia. Tema-tema tersebut di antaranya adalah kebebasan (pilihan bebas), kecemasan, kematian, kehidupan yang otentik (menjadi diri yang otentik), ketiadaan dan lain sebagainya. Terutama masalah kebebasan yang otentik oleh Eksistensialisme dianggap sebagai dua masalah yang sangat mendasar dalam kehidupan manusia. Manusia diyakini sebagai makhluk yang bebas dan kebebasan itu adalah modal dasar untuk hidup sebagai individu yang otentik dan bertanggungjawab. 

  1. Strukturalisme
Strukturalisme adalah suatu metode  analisis yang dikembangkan oleh banyak semiotisian berbasis model linguistik saussure. Strukturalis bertujuan untuk mendeskripsikan keseluruhan  pengorganisasian sistem sebagai tanda ‘bahasa’- seperti yang dilakukan Lévi-Strauss dan mitos, keteraturan hubungan dan  tetomisme, Lacan dan alam bawah sadar; serta Barthes dan Greimas dengan ‘grammar’ pada narasi.
Strukturalisme diartikan sebagai aliran dalam filsafat manusia yang menempatkan struktur atau sistem bahasa dan kebudayaan sebagai kekuatan-kekuatan yang menentukan perilaku dan bahkan kesadaran manusia. Sangat berbeda dengan pandangan eksistensialisme, para strukturalisme meyakini bahwa manusia pada dasarnya merupakan makhluk yang tidak bebas, yang terstruktur oleh bahasa dan budaya. Tidak ada perilaku, pola berpikir, dan kesadaran manusia yang bersifat individual dan unik, yang bebas dari sistem bahasa dan budaya yang menghukumnya. Makna dan keberadaan manusia pada dasarnya tidak tetrgantung pada diri manusia itu sendiri melainkan pada kedudukan dan fungsinya dalam sistem, persis sama makna dan keberadaan huruf atau kata (istilah) dalam sistem bahasa tertentu.

  1. Postmodernisme
Awalan “post” pada istilah itu banyak menimbulkan perbedaan arti. Lyotard mengartikan “post” berarti pemutusan hubungan pemikiran total dari segala kemodernan. David Griffin mengartikannya  sekadar koreksi atas aspek-aspek tertentu saja dari kemodernan. Anthoniy Giddens, mengartikannya sebagai wajah arif kemodernan yang telah sadar diri. Sementara Habermas, satu tahap dari modernisme yang memang belum selesai. Sementara menurut Tony Cliff, postmodernisme berarti suatu  teori yang menolak teori. Akhiran “isme” berarti aliran atau sistem pemikiran yang menunjuk pada kritik-kritik filosofis atau gambaran dunia, epistimologi, dan ideologi modern.
Filsafat postmodernisme tentang manusia sebetulnya hampir sama dengan filsafat strukturalisme. Kedua aliran ini boleh disebut anti humanisme, jika humanisme dipahami pengakuan atas keberadaan dan dominasi “aku” yang terlepas atau independen dari sistem atau situasi dan kondisi yang mengitari hidupnya. Faktanya tidak ada dan  tidak mungkin ada “aku” atau “ego” yang unik dan mandiri, karena itu ia selalu hidup dalam, dan ditentukan oleh sejarah dan situasi sosial budaya yang mengukungnya.
Akan tetapi berbeda dari strukturalisme, diskusi-diskusi postmodernisme masuk ke dalam aspek-aspek kehidupan manusia yang lebih beragam dan aktual. Para postmodernisme menentang hukan hanya dominasi “aku” yang seolah-olah mampu melepaskan diri dari sistem sosial budayanya, tetapi juga menafikan dominasi sistem sosial, budaya, politik, kesenian, ekonomi, orsitektur, dan bahkan jender yang bersifat timpang dan menyeragamkan umat manusia.

Ref : Abidin, Zainal. 2009. FILSAFAT MANUSIA. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Komentar

Posting Komentar

Menerima komentar, saran dan kritik juga ya :)

Postingan populer dari blog ini

PERKEMBANGAN FISIK MASA DEWASA MADYA

Rentang usia dewasa madya atau yang disebut juga usia setengah baya pada umumnya berkisar antara usia 40 - 60 tahun, dimana pada usia ini ditandai dengan berbagai perubahan fisik maupun mental (Hurlock, 1980:320). Masa usia dewasa madya diartikan sebagai suatu masa menurunnya keterampilan fisik dan semakin besarnya tanggung jawab, suatu periode dimana orang menjadi sadar akan polaritas muda-tua dan semakin berkuranggya jumlah waktu yang tersisa dalam kehidupan, suatu masa ketika orang mencapai dan mempertahankan kepuasan dalam karier, dan suatu titik ketika individu berusaha meneruskan suatu yang berarti pada generasi berikutnya.

GANGGUAN TIC

A.Pengertian
Tic adalah suatu gerakan motorik (yang lazimnya mencakup suatu kelompok otot khas tertentu) yang tidak di bawah pengendalian, berlangsung cepat, dan berulang-ulang, tidak berirama, ataupun suatu hasil vocal yang timbul mendadakdan tidak memiliki tujuan yang nyata. Tic terbagi menjadi tic motorik dan tic vocal. Tic jenis motorik dan jenis vocal mungkin dapat dibagi dalam golongan yang sederhana dan yang kompleks, sekalipun penggarisan batasannya kurang jelas. Tic seringkali terjadi sebagai fenomena tunggal namun tidak jarang disertai variasi gangguan emosional yang luas, khususnya, fenmena obsesi dan hipokondrik. Namun ada pula beberapa hambatan perkembangan khas disertai “tic”. Tiidak terdapat garis pemisahyang jellas antara gangguan “Tic” dengan berbagai gangguan emosional dan gangguan emosional disertai “tic”. Diagnosisnya mencerminkan gangguan utamanya.
B.Kriteria menurut DSM IV TR ·Baik beberapa motor dan satu atau lebih vokal tics telah hadir di beberapa waktu selama sak…

FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB KECEMASAN

Sumber kecemasan yang bersifat internal berasal dari dalam diri individu, tidak memiliki keyakinan akan kemampuan diri dapat menimbulkan kecemasan. Sedangkan sumber kecemasan yang bersifat eksternal berasal dari lingkungan. Perubahan yang terjadi pada lingkungan terjadi secara cepat dapat menimbulkan rasa ketidaknyamanan dalam diri individu, hal inilah yang dapat memicu timbulnya kecemasan.