Langsung ke konten utama

SEJARAH ABNORMAL DAN PSIKOPATOLOGI

1.   Demonology awal
Demonology merupakan doktrin bahwa wujud yang jahat, seperti setan, mungkin merasuki seseorang dan mengendalikan pikiran dan tubuh seseorang.
Sejalan dengan kepercayaan sedemikian, penanganannya sering kali menccakup eksorsisme, yaitu pengusiran ruh jahat dengan mantra atau penyiksaan ritualistic. Eksorsisme umunya berbentuk serangkaian do’a yang rinci, menciptakan suara bising, memaksa orang yang kerasukan untuk emminum ramuan yang rasanya sangat tidak enak, dan kadangkala tindakna yang lebih ekstrim seperti pemukulan atau dibuat kelaparan, agar tubuh tidak mengenakkan untuk ditempati ruh jahat.


2.   Somatogenesis
Pada abad ke 5 SM, Hippocrates seringkali dianggap sebagai bapak ilmu kedokteran modern, yang memisahkan ilmu kedokteran dari agama,sihir, dan takhayul.
Hippocrates berpendapat bahwa otak adalah organ kesadarna kehidupan intelektual dan emosi; sekaligus dia berpendapat bahwa pikiran dan perilaku yang menyimpang adalah indikasi terjadinya suatu patologi otak. Hippocrates sering dianggap sebagai salah satu pelopr pertama somatogenesis yaitu suatu istilah yang merujuk bahwa masalah yang terjadi pada soma atau tubuh fisik, akan mengganggu pikiiran dan tindakan. Psikogenesis secara kontras, adalah kepercayaan bahwa suatu ganggaun berawal mula dari factor psikologis.
Hipppocrates mengklasifikasikan gangguan mental ke dalam tiga kategori: mania, melankolia, dan prenitis atau demam otak. Ia juga percaya bahwa fungsi otak yang normal, demikian juga kesehatan mental, bergantung pada keseimbangan yang baik pada empat humor, atau cairan tubuh, yaitu darah, cairan empedu hitam, cairan empedu kuning dan lender. Ketidakseimbangan menyebabkan gangguan. Jika seseorang lam bat dan tumpul, sebagai contoh, kemungkinan tubuh mengandung cairan yang lebih banyak. Cairan empedu hitam yang lebih banyak adalah penyebab melankolia; terlalu banyak empedu kuning menyebabkan mudah tersinggung dan kecemasan; dan terlalu banyak darah menyebabkan berubah-ubahnya temperamen.
Tujuh abad setelahnya, pendekatna naturalistic Hippocrates terhadap gangguan secara umum diterima oleh bangsa yunani dan romawi, yang menggunakan pengobatan yunani setelah kota mereka menjadi pusat kekuasaan eropa kuno.
3.   Abad kegelapan dan demonology
Hukuman bagi tukang sihir. Selama abad ke-13 dan beberapa abad setelahnya masyarakat yang sudah menderita karena kekacauan social dan kelaparan yang terus terjadi serta berbagai wabah penyakit akhirnya kembali ke demonology untuk mencari penjelasan tentang berbagai bencana tersebut. Masyarakat eropa kembali terobsesi dengan setan. Ilmu sihir yang dianggap ciptaan setan, dianggap sebagai penyimpangan dan penolakan terhadap tuhan.
Pada tahun 1484, paus innocent VIII memerintahkan para pendeta eropa untuk melakukan pencarian para tukang sihir secara besar-besaran. Mereka yang dituduh sebagai tukang sihir harus disiksa jika tidak mengaku; mereka yang dianggap terbukti bersalah dan menyesalinya dipenjara seumur hidup dan mereka yang bersalah serta tidak menyesalinya dieksekusi secara hukum. Walaupun catatan sejarah mengenai periode tersebut tidak dapat diandalkan, selama beberapa abad setelahnya dipperkirakan ratusan ribu wanita, pria, dan anak-anak telah dituduh, disiksa dan dibunuh.
Ilmu sihir dan penyakit jiwa. Selama beberapa waktu, para peneliti zaman modern percaya bahwa orang-orang yang sakit jiwa di akhir abad pertengahan dianggap sebagai tukang sihir. Analisis yang diteliti terhadap pemburuan para tukang sihir mengungkapkan bahwa walaupun beberapa penyihir tertuduh mengalami gangguan jiwa, lebih hanyak orang waras yang diadili disbanding orang yang tidak waras. Evaluasi terhadap sumber-sumber informasi lainnya juga mengindikasikan bahwa ilmu sihir bukan interpretasi utama terhadap penyakit mental. Sejak abad ke-13, sejalan dengan semakin besarnya kota-kota di eropa, rumah-rumah sakit mulai didirikan dalam wilayah hukum secular.
Dimulai pada abad ke-13, pengadilan ketidakwarasan untuk menentukan kewarasan seseorang dijalankan di inggris. Pengadilan tersebut dilakukan di bawah hukum kerajaan untuk melindungi mereka yang sakit jiwa, dan penilaian ketidakwarasan memberikan hak kepada kerajaan untuk menjadi pelindung tempat para orang tidak waras. Orientasi, ingatan, kecerdasan, kehidupan sehari-hari, dan kebiasaan si tertuduh menjadi isu dalam pengadilan tersebut. Penjelasan perilaku aneh umumnya berkaitan dengan panyakit fisik atau cedera atau tekanan emosional tertentu.
4.   Perkembangan rumah sakit jiwa
Perawatan di rumah sakit bagi orang-orang sakit jiwa dimulai secara serius pada abad ke-15 dan ke-16. Rumah sakit lepra diubah menjadi asylum, tempat pengungsian yang disiapkan untuk penempatan dan perawatan orang sakit jiwa. Banyak rumah sakit jiwa dihuni secara bersama-sama oleh orang sakit jiwa dan para pengemis. Pengemis dianggap sebagai maslaah social besar pada masa itu; pada abad ke -16 paris memiliki 30.000 pengemis daro total populasinya yang kurang dari 100.000. rumah sakit tersebut tidak memiliki perawatan khusus bagi para penghuninya selain membuat mereka bekerja, namun pada periode yang sama rumah-rumah sakit yang dilengkapi secara lebih spesifik untuk penanganan penderita sakit jiwa juga didirikan.
Bethlehem dab rumah sakit jiwa awal lainnya. Biara santa maria Bethlehem didirikan pada tahun 1243. Pada tahun 1403 enam orang sakit jiwa menghuni biara tersebut, dan pada tahun 1547, Henry VIII menyerahkannya pad apemmerintah kota London, dan sejak saat itu menjadi rumah sakit yag hanya menangani orang sakit jiwa. Kondisi di Bethlehem sangat buruk. Setelah bertahun-tahun kata bedlam, kependekan dan nama popular RS tersebut, menjadi istilah yang menggambarkan suatu tempat atau situasi yang penuh kekacauan dan kebingungan. Bedlam akhirnya menjadi salah satu atraksi turis yang besar di London, pada akhir abad ke-18 bersaing dengan Westminster Abbey dan menara London. Bahkan pada akhir abad ke-19 melihat pasien yang liar dengan segala keannehannya dianggap suatu hiburan, dan tiket masuk bedlam mulai dijual. Dan hal demikian tidak jauh berbeda dengan RSJ lainnya.
Reformasi Pinel. Philippe Pinel (1745-1826) seringkali dianggap sebagai fihur utama dalam gerakan bagi penanganan manusiawi terhadap orang sakit mental di rumah sakit jiwa. Pada tahun 1793, ketika revolusi prancis berkecamuk, dia ditugaskan menangani rumah sakit jiwa yang disebut La Bicetre. Seorang sejarawan menggambarkan kondisi di rumah sakit tersebut:
        Para pasien dirantai ke dinding dalam sel mereka, dengan kerah besi yang membuat mereka rata sejajar dengan dinding dan hampir tidak dapat bergerak… mereka tidak dapat berbaring pada malam hari, sebagaimana mestinya-seringlai pinggang mereka dililit dengan semacam cincin besi dan sebagai tambahan…rantai di tangan dan kaki… rantai tersebut cukup panjang sehingga pasien dapat makan dari mangkuk, makanannya biasanya berupa bubur-roti yang dicelupkan dalam sup encer. Karena tidak memiliki banyak pengetahuan tentang asupan makanan, (tidak ada perhatian) yang diberikan terhadap pengaturan makanan yang diberikan kepada pasien. Mereka dianggap sebagai binatang… dan tak ppeduli apakah makanannya baik atau buruk.
Menurut sejarah, walau demikian, mangindikasikan bahwa pinel tidak sungguh-sungguh melepaskan rantai yang mengikat para pasien. Tindakan tersebut dilakukan oleh bekas pasien, Jean Baptiste Pussin, yang telah menjadi seorang yang patuh di rumah sakit tersebut. Kenyataannya, Pinel bahkan tidak ada di sana ketika para pasien dibebaskan (Weiner, 1994). Namun beberapa tahun kemudian, Pinel memuji upaya tersebut dan mulai melakukan hal yang sama.
Penanganan Moral. Pada tahun 1796, York Retreat didirikan di daerah pedesaan. Ilustrasi tersebut menciptakan atmosfir yang tenang dan religious bagi para pasien jiwa untuk hidup, bekerja, dan beristirahat. Para pasien membahas kesulitan mereka dengan para perawat, bekerja di kebun, da berjalan-jalan di pinggir desa.
Sejalan dengan pendekatan tersebut yang kemudian dikenal sebagai penanganan moral, pasien memiliki kedekatan dengan para perawat, yang bercakap-cakap dengan mereka, membacakan buku, dan mendoromg mereka untuk melakukan seseuatu yang bertujuan: para penghuni menjalani hidup senormal mungkin dan secara umum bertanggung jawab terhadap diri sendiri walaupun dalam keterbatasan gangguan yang mereka alami.
Penanganan moral sangat diabaikan pada tahun-tahun akhir abad ke-19. Ironisnya, upaya Dorothea Dix (1802-1887), seorang pejuang dalam peningkatan kondisi untuk orang yang sakit jiwa yang berjuang demi pendirian rumah sakit yang merawat mereka dengan baik, ikut berperan dalam perubahan tersebut. Dix, seorang guru  di boston, mengajar sekolah minggu di penjara local terkejut dengan kondisi penjara yang sangat buruk. Minatnya  meluas ke kondisi rumah sakit jiwa  pada masa itu yang tidak tahu harus kemana untuk mendapatkan penanganan. Dix berkampanye dengan gigih untuk memperbaiki kondisi banyak orang sakit jiwa; di mengamati sendiri bahwa 32 rumah sakit kemudia didirikan.
5.   Pemikiran awal kontemporer
Satu perkembangan yang memicu kemajuan adalah ditemukannya fakta oleh ahli anatomi dan dokter berkebangsaan Fleming – Vesalius (1514-1564) bahwa anatomi tubuh manusia yang disampaikan oleh Galen tidak benar. Galen mengasumsikan bahwa fisiologi manusia sama dengan kera-kera yang ditelitinya. Diperlukan lebih dari seribu tahun bagi studi otopsi tentang manusia – tidak diperbolehkan di masa itu – untuk membuktikan kesalahan Galen. Kemajuan lebih jauh lagi dihasilkan dari upaya dokter berkebangsaan inggris Thomas Sydenham (1624-1689). Sydenham berhasil memperjuangkan pendekatan empiris dalam klasifikasi dan diagnosis yang kemudian mempengaruhi mereka yang tertarik terhadap gangguan jiwa.
System klasifikasi awal. Wilhelm Griesinger, seorang doctor berkebangsaan jerman yang paling terkesan pad apendekatan Sydenham, menekankan bahwa setiap diagnosis gangguan jiwa mengacu kepada suatu sebab biologis, suatu pendapat yang jelas kembali ke sudut pandang somatogenesis yang pertama kali dikemukakan oleh Hippocrates.
Emil Kraepelin , pengikut Griesinger yang terkenal membedakan berbagai gangguan mental berdasarkan kecendrungan sebuah simtom tertentu, disebut sindrom, yang muncul bersamaan secara teratur sehingga dapat dianggap memiliki sebab fisiologis yang mendasarinya, seperti hanya penyakit medis tertentu dan sindromnya mungkin disebabkan disfungsi biologis.
Kraepelin mengusulkan dua kelompok utama penyakit mental berat: dimensia precox, istilah awal untuk skizofrenia, dan psikosis manic-depresif. Dia menduga bahwa ketidakseimbangan kimiawi merupakan sebab skizofrenia dan ketidakteraturan metabolisme sebagai penyebab psikosis manic-depresif.
Sebuah kasus ilustratif: paresis umum dan sifilis. Sejak tahun 1798 telah diketahui bahwa sejumlah pasien jiwa menunjukkan sindrom yang ditandai dengan penurunan kemampuan fisik dan mental secara terus menerus dan para pasien tersebut menderita banyak kerusakan, termasuk delusi grandeur dan kelumpuhan progresif.  Pada tahun 1825, penurunan kesehatan mental dan fisik tersebut ditetapkan sebagai penyakit, paresis umum. Walaupun telah diketahui sejak tahun 1857 bahwa beberapa pasien yang menderita paresis sebelumnya menderita sifilis, namun banyak teori lainnya mengenai panyebab paresis.
Psikogenesis. Pada akhir abad ke-18 dan selama abad ke-19, para peneliti lain menganggap bahwa ppenyakit jiwa memiliki sebab yang berbeda sekali.
Mesmer dan charcot. Selama abad ke-18 banyak orang di eropa barat mengalami kondisi histerikal; mereka menderita cacat fisik seperti buta atau lumpuh, tanpa ditemukan penyebab fisik apapun. Franz Anton Mesmer (1743-1815) seorang dokter berkebangsaan Austria yakin bahwa gangguan histerikal disebabkan oleh distribusi tertentu dari suatu cairan magnetic universal dalam tubuh.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PERKEMBANGAN FISIK MASA DEWASA MADYA

Rentang usia dewasa madya atau yang disebut juga usia setengah baya pada umumnya berkisar antara usia 40 - 60 tahun, dimana pada usia ini ditandai dengan berbagai perubahan fisik maupun mental (Hurlock, 1980:320). Masa usia dewasa madya diartikan sebagai suatu masa menurunnya keterampilan fisik dan semakin besarnya tanggung jawab, suatu periode dimana orang menjadi sadar akan polaritas muda-tua dan semakin berkuranggya jumlah waktu yang tersisa dalam kehidupan, suatu masa ketika orang mencapai dan mempertahankan kepuasan dalam karier, dan suatu titik ketika individu berusaha meneruskan suatu yang berarti pada generasi berikutnya.

GANGGUAN TIC

A.Pengertian
Tic adalah suatu gerakan motorik (yang lazimnya mencakup suatu kelompok otot khas tertentu) yang tidak di bawah pengendalian, berlangsung cepat, dan berulang-ulang, tidak berirama, ataupun suatu hasil vocal yang timbul mendadakdan tidak memiliki tujuan yang nyata. Tic terbagi menjadi tic motorik dan tic vocal. Tic jenis motorik dan jenis vocal mungkin dapat dibagi dalam golongan yang sederhana dan yang kompleks, sekalipun penggarisan batasannya kurang jelas. Tic seringkali terjadi sebagai fenomena tunggal namun tidak jarang disertai variasi gangguan emosional yang luas, khususnya, fenmena obsesi dan hipokondrik. Namun ada pula beberapa hambatan perkembangan khas disertai “tic”. Tiidak terdapat garis pemisahyang jellas antara gangguan “Tic” dengan berbagai gangguan emosional dan gangguan emosional disertai “tic”. Diagnosisnya mencerminkan gangguan utamanya.
B.Kriteria menurut DSM IV TR ·Baik beberapa motor dan satu atau lebih vokal tics telah hadir di beberapa waktu selama sak…

FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB KECEMASAN

Sumber kecemasan yang bersifat internal berasal dari dalam diri individu, tidak memiliki keyakinan akan kemampuan diri dapat menimbulkan kecemasan. Sedangkan sumber kecemasan yang bersifat eksternal berasal dari lingkungan. Perubahan yang terjadi pada lingkungan terjadi secara cepat dapat menimbulkan rasa ketidaknyamanan dalam diri individu, hal inilah yang dapat memicu timbulnya kecemasan.