Langsung ke konten utama

TINGKATAN MANUSIA DI DALAM SHALAT

Pertama; yaitu orang yang melakukan perbuatan zalim terhadap dirinya, atau orang yang lalai. Orang yang tidak memperhatikan masalah wudhunya, lalai dari waktu yang ditetapkan, maupun aturan-aturan dan rukun-rukunnya.

Kedua; yaitu orang-orang yang menjaga batasan-batasan  waktunya serta rukun-rukunnya yang Nampak dan memperhatikan masalah wudhu. Namun, manusia yang berada dalam golongan ini tidak bersungguh-sungguh dalam melawan bisikan-bisikan dan godaan setan di dalam shalat. Manusia di dalam golongan ini juga sering tidak berkonsentrasi karena rasa was-was dan pikiran-pikiran kacau lainnya.

Ketiga; yaitu golongan manusia yang menjaga batasan-batasan dan rukun-rukunnya, dan dirinya juga bersungguh-sungguh dalam melawan musuhnya, agar shalatnya tidak kecolongan. Golongan ini berada di antara shalat dan jihad (bersungguh-sungguh)

Keempat; yaitu golongan yang apabila hendak menunaikan shalat menunaikan hak-haknya, rukun-rukun, serta batasan-batasannya. Hatinya senantiasa disibukkan dengan menjaga batsan-batasan shalat serta hak-haknya agar tidak menyia-nyiakan shalatnya sedikitpun. Semua tekadnya terkumpul untuk menyempurnakan shalat sebagaimana seharusnya seorang hamba menyempurnakan dan menunaikannya dengan baik. Hati manusia dala golongan ini selalu disibukkan dengan masalah shalat dan merasakan penghambaan kepada Allah SWT.

Kelima; yaitu orang-orang yang menunaikan shalat sedangkan hati mereka seakan-akan tergantung di hadapan pemeliharanya. Mereka merasa dilihat dan diawasi oleh Allah SWT. Hati mereka juga senantiasa diliputi olah rasa cinta kepada keagungan Allah. Mereka bisa mengalahkan bisikan-bisikan serta lintasan-lintasan pikiran dari setan. Manusia dalam golongan ini senantiasa menyibukkan shalatnya dengan Allah dan merasa senang dengan shalatnya. Shalat yang mereka lakukan dibandingkan dengan tingkatan shalat dari golongan lain lebih mulia dan lebih agung seakan-akan seperti apa yang ada di antara langit dan bumi.

Shalat bagi golongan manusia pertama adalah shalat orang yang dihukum atau merasa terbebani, sedangkan kelompok kedua ialah seseorang selalumenghitung-hitung shalatnya, sedangkan shalat dalam golongan ketiga adalah orang yang dosanya dihapuskan dengan shalatnya, sedangkan shalat pada golongan yang keempat ialah shalat yang diberikan pahala. Dan tingkatan shalat pada golongan kelima adalah shalat orang yang senantiasa mendekatkan diri kepada Allah, karena kebahagiaan golongan tersebut adalah ketika menjalankan shalat.

Diambil dari kitab al-Wabil ash-Shayyib, karya Ibnu Qayyim al-Jauziyah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PERKEMBANGAN FISIK MASA DEWASA MADYA

Rentang usia dewasa madya atau yang disebut juga usia setengah baya pada umumnya berkisar antara usia 40 - 60 tahun, dimana pada usia ini ditandai dengan berbagai perubahan fisik maupun mental (Hurlock, 1980:320). Masa usia dewasa madya diartikan sebagai suatu masa menurunnya keterampilan fisik dan semakin besarnya tanggung jawab, suatu periode dimana orang menjadi sadar akan polaritas muda-tua dan semakin berkuranggya jumlah waktu yang tersisa dalam kehidupan, suatu masa ketika orang mencapai dan mempertahankan kepuasan dalam karier, dan suatu titik ketika individu berusaha meneruskan suatu yang berarti pada generasi berikutnya.

GANGGUAN TIC

A.Pengertian
Tic adalah suatu gerakan motorik (yang lazimnya mencakup suatu kelompok otot khas tertentu) yang tidak di bawah pengendalian, berlangsung cepat, dan berulang-ulang, tidak berirama, ataupun suatu hasil vocal yang timbul mendadakdan tidak memiliki tujuan yang nyata. Tic terbagi menjadi tic motorik dan tic vocal. Tic jenis motorik dan jenis vocal mungkin dapat dibagi dalam golongan yang sederhana dan yang kompleks, sekalipun penggarisan batasannya kurang jelas. Tic seringkali terjadi sebagai fenomena tunggal namun tidak jarang disertai variasi gangguan emosional yang luas, khususnya, fenmena obsesi dan hipokondrik. Namun ada pula beberapa hambatan perkembangan khas disertai “tic”. Tiidak terdapat garis pemisahyang jellas antara gangguan “Tic” dengan berbagai gangguan emosional dan gangguan emosional disertai “tic”. Diagnosisnya mencerminkan gangguan utamanya.
B.Kriteria menurut DSM IV TR ·Baik beberapa motor dan satu atau lebih vokal tics telah hadir di beberapa waktu selama sak…

FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB KECEMASAN

Sumber kecemasan yang bersifat internal berasal dari dalam diri individu, tidak memiliki keyakinan akan kemampuan diri dapat menimbulkan kecemasan. Sedangkan sumber kecemasan yang bersifat eksternal berasal dari lingkungan. Perubahan yang terjadi pada lingkungan terjadi secara cepat dapat menimbulkan rasa ketidaknyamanan dalam diri individu, hal inilah yang dapat memicu timbulnya kecemasan.