Langsung ke konten utama

Komunikasi Produktif #Hari 2


Ini hari kedua tantangan 10 hari komprod. Masih dengan masalah dan partner yang sama tentunya. Meskipun di pagi hari sempat ngobrol sambil mengerjakan tanggung jawab masing-masing, saya malah lupa meresap unsur-unsur komprod pada percakapan kami tadi pagi *hehe
Hampir seharian ini lebih banyak bermain bersama si kecil yang sudah sangat aktif bereksplorasi. Afif masa ini sangat senang bereksplorasi di dapur, mengobrak-abrik isi kulkas, lemari piring, bahkan sangat ingin memasak *what? Ya, karena belakangan ini hampir setiap pagi hari ia minta gendong sama papahnya untuk sekedar melihat apa yang sedang di masak di dalam wajan. Tapi bersyukur karena bisa ikutan tidur sejenak bersama si kecil untuk mengistirahatkan badan dari melayani bayi yang gak ada capeknya. Bangun tidur, makan dan kembali bermain lagi.

Sampailah sore hari, saya selalu tidak sabar menunggu sore untuk gantian sama suami untuk menemani Afif. Yang ditunggu datang, namun tetap saja banyak acara. *apalagi kalo bukan acara sama handphone. Dan ini juga hal yang membuat bunda selalu tiba-tiba berubah jadi Hulk.
“Bundaaa…!” Sang suami memanggil yang sedang di dapur untuk menyiapkan makanan
“Yaa.. kenapa?” sembari berjalan dan membuka pintu kamar.
“Afif niih.. bantuin dulu dong…”
Aku terdiam, memang berusaha diam melihat apa yang terjadi. Namun dalam hati…
katanya mau sholat. Dari tadi ngapain aja??? Itu anak kenapa dikasih handphone!!! Trus kenapa nangis??? Ya, aku bisa bertahan tidak melontarkan repetan itu.
“papa tadi mw sholat eh pak Al nelp penting sebentar” baiklah pa, tenang, bunda dan ga bakal marah kok.
“yaudah dede main sama bunda dulu yuk, papa sholatlah bunda nyambi numis kangkungnya tuh habis itu gantian.”
Afif masih rewel karena ga berhasil dapet gadget, dikasih mainan menolak, akhirnya kugendong dan berusaha mengalihkan perhatiannya dan akhirnya perhatian itu teralih pada bedak.
Ya sudah nak, yang penting jangan sampe bedaknya dimakan yah..

#Hari2
#Gamelevel1
#Tantangan10Hari
#KomunikasiProduktif
#KuliahBunsayIIP

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PERKEMBANGAN FISIK MASA DEWASA MADYA

Rentang usia dewasa madya atau yang disebut juga usia setengah baya pada umumnya berkisar antara usia 40 - 60 tahun, dimana pada usia ini ditandai dengan berbagai perubahan fisik maupun mental (Hurlock, 1980:320). Masa usia dewasa madya diartikan sebagai suatu masa menurunnya keterampilan fisik dan semakin besarnya tanggung jawab, suatu periode dimana orang menjadi sadar akan polaritas muda-tua dan semakin berkuranggya jumlah waktu yang tersisa dalam kehidupan, suatu masa ketika orang mencapai dan mempertahankan kepuasan dalam karier, dan suatu titik ketika individu berusaha meneruskan suatu yang berarti pada generasi berikutnya.

GANGGUAN TIC

A.Pengertian
Tic adalah suatu gerakan motorik (yang lazimnya mencakup suatu kelompok otot khas tertentu) yang tidak di bawah pengendalian, berlangsung cepat, dan berulang-ulang, tidak berirama, ataupun suatu hasil vocal yang timbul mendadakdan tidak memiliki tujuan yang nyata. Tic terbagi menjadi tic motorik dan tic vocal. Tic jenis motorik dan jenis vocal mungkin dapat dibagi dalam golongan yang sederhana dan yang kompleks, sekalipun penggarisan batasannya kurang jelas. Tic seringkali terjadi sebagai fenomena tunggal namun tidak jarang disertai variasi gangguan emosional yang luas, khususnya, fenmena obsesi dan hipokondrik. Namun ada pula beberapa hambatan perkembangan khas disertai “tic”. Tiidak terdapat garis pemisahyang jellas antara gangguan “Tic” dengan berbagai gangguan emosional dan gangguan emosional disertai “tic”. Diagnosisnya mencerminkan gangguan utamanya.
B.Kriteria menurut DSM IV TR ·Baik beberapa motor dan satu atau lebih vokal tics telah hadir di beberapa waktu selama sak…

FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB KECEMASAN

Sumber kecemasan yang bersifat internal berasal dari dalam diri individu, tidak memiliki keyakinan akan kemampuan diri dapat menimbulkan kecemasan. Sedangkan sumber kecemasan yang bersifat eksternal berasal dari lingkungan. Perubahan yang terjadi pada lingkungan terjadi secara cepat dapat menimbulkan rasa ketidaknyamanan dalam diri individu, hal inilah yang dapat memicu timbulnya kecemasan.