Langsung ke konten utama

Komunikasi Produktif #Hari 9

Saya tiba-tiba teringat akan kebiasaan yang beberapa hari ini, bahkan lebih seminggu sudah hilang. Biasanya sebelum tidur ataupun menunggu si kecil mencari posisi wenak untuk tidur alias PW, saya dan suami sering berbincang (pillow talk). Banyak sekali yang kami ceritakan. Tentang perkembangan anak kami, kejadian unik di suatu hari, ataupun menyelesaikan konflik yang kami hadapi.

Saya punya satu kebiasan dalam mengatasi konflik dengan suami. Tidak dapat dipungkiri toh, dalam rumah tangga pasti ada konflik, baik itu kecil atau besar. Jika ada hal yang membuat saya marah sekali pada suami, saya tidak terbiasa melepaskan amarah saya dengan blak-blakan, baik itu teriak, mengumpat, mencaci, dsb (semoga tidak pernah). Namun saya diam. Diam seribu bahasa sampai hati puas dan apa yang ada dalam pikiran saya itu, sampai kepadanya. Lalu dengan cara apa?

Saya melimpahkan kemarahan dan uneg-uneg itu sepuasnya dalam tulisan, kemudian saya kirim tulisan tersebut kepadanya. Segera dibaca, dan jika memungkinkan ia akan segera mengajak saya bicara untuk menyelesaikannya serta meminta maaf. Dengan demikian permasalahan menjadi jelas dan saya pun juga meminta maaf.

Saya bersyukur bahwa dari awal suami sangat menekankan pentingnya berkomunikasi. Dengan begitu saya pun terbiasa dan tidak akan bisa tidur pulas jika permasalahan yang kami hadapi belum diselesaikan.

Teringat pula pada satu momen marahan kami, saya sangat kesal dan menuliskan semua kemarahan saya dengan tegas, namun saat menuliskannya saya kadang asyik menggunakan diksi yang kadang tidak sengaja malah indah. Ketika suami membaca ia tersenyum dan berkata

“Dek, kenapa kamu ga jadi penulis aja sih? Mas suka lo baca tulisanmu ini.” Saya pun luluh dan tiba-tiba lupa kalau sedang marah kepadanya. Entah itu benar-benar memuji, ataukah trik jitu agar saya tidak marah lagi..entahlah. Yang jelas malam ini kami sempat berbincang-bincang hangat sambil menemani Afif yang asyik bermain balon. 😄


#Hari9
#GameLevel1
#Tantangan10Hari
#KomunikasiProduktif
#KuliahBunsayIIP

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PERKEMBANGAN FISIK MASA DEWASA MADYA

Rentang usia dewasa madya atau yang disebut juga usia setengah baya pada umumnya berkisar antara usia 40 - 60 tahun, dimana pada usia ini ditandai dengan berbagai perubahan fisik maupun mental (Hurlock, 1980:320). Masa usia dewasa madya diartikan sebagai suatu masa menurunnya keterampilan fisik dan semakin besarnya tanggung jawab, suatu periode dimana orang menjadi sadar akan polaritas muda-tua dan semakin berkuranggya jumlah waktu yang tersisa dalam kehidupan, suatu masa ketika orang mencapai dan mempertahankan kepuasan dalam karier, dan suatu titik ketika individu berusaha meneruskan suatu yang berarti pada generasi berikutnya.

GANGGUAN TIC

A.Pengertian
Tic adalah suatu gerakan motorik (yang lazimnya mencakup suatu kelompok otot khas tertentu) yang tidak di bawah pengendalian, berlangsung cepat, dan berulang-ulang, tidak berirama, ataupun suatu hasil vocal yang timbul mendadakdan tidak memiliki tujuan yang nyata. Tic terbagi menjadi tic motorik dan tic vocal. Tic jenis motorik dan jenis vocal mungkin dapat dibagi dalam golongan yang sederhana dan yang kompleks, sekalipun penggarisan batasannya kurang jelas. Tic seringkali terjadi sebagai fenomena tunggal namun tidak jarang disertai variasi gangguan emosional yang luas, khususnya, fenmena obsesi dan hipokondrik. Namun ada pula beberapa hambatan perkembangan khas disertai “tic”. Tiidak terdapat garis pemisahyang jellas antara gangguan “Tic” dengan berbagai gangguan emosional dan gangguan emosional disertai “tic”. Diagnosisnya mencerminkan gangguan utamanya.
B.Kriteria menurut DSM IV TR ·Baik beberapa motor dan satu atau lebih vokal tics telah hadir di beberapa waktu selama sak…

FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB KECEMASAN

Sumber kecemasan yang bersifat internal berasal dari dalam diri individu, tidak memiliki keyakinan akan kemampuan diri dapat menimbulkan kecemasan. Sedangkan sumber kecemasan yang bersifat eksternal berasal dari lingkungan. Perubahan yang terjadi pada lingkungan terjadi secara cepat dapat menimbulkan rasa ketidaknyamanan dalam diri individu, hal inilah yang dapat memicu timbulnya kecemasan.