Langsung ke konten utama

Tantangan Komunikasi Produktif #Hari 1




Ini tantangan pertama di kuliah Bunda Sayang, games level 1, komunikasi produktif. Wahhh, sudah jelas, komunikasi diri sendiri nih yang jadi PR. Pada games ini, partner yang terpilih adalah suami, karena anakku saat ini masih berusia 16 bulan. Baiklah, awalnya memang bingung mau bagaimana memulainya, namun akhirnya ketemu satu momen yang rupanya bisa jadi tantangan hari ini.
Jadi, rencananya tadi siang mau belanja popok si bayi, udah janjian sama suami. Aku udah siap-siap, eh si bayi BAB, yowis cuci dulu. Dah selesai, ganti pakaian dan lain-lain.. eeh suamiku malah tiduran sambil main handphone, ya udah spontan gigi merapat, bibir mengkerut, suara mendalam, dan mata melebar.
“Itu ngapain lagi pake tiduran??? Buruan! ntar ujan…!” ah pokoknya panjang itu repetan sampai-sampai si bayi memandangku dengan muka polos sekaligus heran. Menyadari hal itu tidak baik dan mungkin bisa dicontoh, lalu intonasiku berubah menjadi lembut sekali.
“Papa sayaang.. yuk berangkat, sana ganti baju itu udah bunda siapin tuh”
Dan saat itu pula suamiku segera berdiri dan senyum-senyum (kayak anak bandel), aku pun tersenyum melihatnya yang tumben cepat bergerak, karena biasanya ia selalu menguji kesabaran hingga tanduk keluar.. 
“Naah.. gitu doong Bun.. kalo sama afif aja, lembuuut. Giliran papa diomelin terus. Ulang lagi Bunda kayak tadi” dan suamiku malah nangkring ga benranjak, nyangkut di pintu kamar.
“Lagi apanyaaa? Ampuuun! Sana buruan… (grrrrrrr)!” 
“Tuuh kan betanduk lagi Bunda tu..”
Sontak aku tertawa dan mengulang perintah dengan Bahasa yang lebih lembut.
Ya, kelembutan adalah salah satu cara berkomunikasi yang merujuk pada kaidah 7-38-55; komponen yang lebih besar mempengaruhi hasil komunikasi adalah intonasi suara (38%) dan bahasa tubuh (55%). PR besar bagiku saat ini adalah melatih kesabaran dan memperbaiki cara menyampaikan keinginan. Setiap tindakan ada hasilnya.

#Hari1
#GameLevel1
#Tantangan10Hari
#KomunikasiProduktif
#KuliahBunsayIIP

Komentar

  1. iyow mba e, kok iso yo mba? yo iyes lah, laki jaman now.. haha.. *apasih? wkwkwk

    BalasHapus

Posting Komentar

Menerima komentar, saran dan kritik juga ya :)

Postingan populer dari blog ini

PERKEMBANGAN FISIK MASA DEWASA MADYA

Rentang usia dewasa madya atau yang disebut juga usia setengah baya pada umumnya berkisar antara usia 40 - 60 tahun, dimana pada usia ini ditandai dengan berbagai perubahan fisik maupun mental (Hurlock, 1980:320). Masa usia dewasa madya diartikan sebagai suatu masa menurunnya keterampilan fisik dan semakin besarnya tanggung jawab, suatu periode dimana orang menjadi sadar akan polaritas muda-tua dan semakin berkuranggya jumlah waktu yang tersisa dalam kehidupan, suatu masa ketika orang mencapai dan mempertahankan kepuasan dalam karier, dan suatu titik ketika individu berusaha meneruskan suatu yang berarti pada generasi berikutnya.

FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB KECEMASAN

Sumber kecemasan yang bersifat internal berasal dari dalam diri individu, tidak memiliki keyakinan akan kemampuan diri dapat menimbulkan kecemasan. Sedangkan sumber kecemasan yang bersifat eksternal berasal dari lingkungan. Perubahan yang terjadi pada lingkungan terjadi secara cepat dapat menimbulkan rasa ketidaknyamanan dalam diri individu, hal inilah yang dapat memicu timbulnya kecemasan.

GANGGUAN TIC

A.Pengertian
Tic adalah suatu gerakan motorik (yang lazimnya mencakup suatu kelompok otot khas tertentu) yang tidak di bawah pengendalian, berlangsung cepat, dan berulang-ulang, tidak berirama, ataupun suatu hasil vocal yang timbul mendadakdan tidak memiliki tujuan yang nyata. Tic terbagi menjadi tic motorik dan tic vocal. Tic jenis motorik dan jenis vocal mungkin dapat dibagi dalam golongan yang sederhana dan yang kompleks, sekalipun penggarisan batasannya kurang jelas. Tic seringkali terjadi sebagai fenomena tunggal namun tidak jarang disertai variasi gangguan emosional yang luas, khususnya, fenmena obsesi dan hipokondrik. Namun ada pula beberapa hambatan perkembangan khas disertai “tic”. Tiidak terdapat garis pemisahyang jellas antara gangguan “Tic” dengan berbagai gangguan emosional dan gangguan emosional disertai “tic”. Diagnosisnya mencerminkan gangguan utamanya.
B.Kriteria menurut DSM IV TR ·Baik beberapa motor dan satu atau lebih vokal tics telah hadir di beberapa waktu selama sak…